Bola
Ketika pertandingan
putaran final sepak bola piala dunia tahun 2006 lalu sudah mendekat, tentu
banyak pihak dan penggemar bola yang sudah siap menyambutnya. Bahkan, mungkin sudah ada pecandu judi bola yang mendupai televisinya atas petunjuk dukunnya yang
diyakini dapat menentukan kesebelasan yang akan menjadi juara dunia. Sepak bola memang bukanlah lagi sebatas adu sportivitas melainkan sudah lebih
sebagai komoditas.
Konon, sepak bola berawal dari
kebiasaan brutal masyarakat purba Britania (Inggris) dari zaman sebelum Masehi.
Waktu itu, mereka sering baku perang antarsuku sebagaimana sering terjadi pada
manusia purba. Di Indonesia kira-kira mirip dengan perang antarsuku asli Papua pada
Zaman Batu. Kalau suku asli Papua mengoleksi tengkorak kepala musuh dan ada
yang dijadikan sebagai bantal atau mainan kalung sebagai simbol hero seorang
kepala suku atau panglima perang, masyarakat purba Britania konon memenggal
kepala musuhnya lalu mempermainkan kepala itu, dengan menendang-nendangnya ke
sana ke mari untuk melampiaskan kebenciannya. Permainan itu belum disebut
sebagai permaianan bola. Namun, sadisme itu telah menghantar bola sebagai
permainan olah raga yang paling digemari di seluruh pelosok dunia, dan karena
itu, banyak manusia modern menjadi maniak bola.
Bola yang kita kenal saat ini adalah
sebuah benda bundar yang biasanya terbuat dari kulit, karet, plastik, atau
bahan lunak lainnya. Benda itu dijadikan sasaran pukulan, tendangan, atau
lemparan dengan mempergunakan kaki, tangan, atau alat pemukul lainnya, seperti
kita lihat dalam permainan bola kaki, bola voli, bola basket, bola kasti, dan
sebagainya. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) Edisi Ketiga Tahun
2001, arti kata ”bola” adalah benda bulat yang dibuat dari karet dsb untuk
bermain-main. (Mestinya sebagai alat bermain, bukan untuk bermain-main, sebab
pertandingan bola piala dunia misalnya, bukanlah main-main...).
Bola sebagai suatu benda bulat yang digunakan
dalam permainan sepak bola, agaknya tidak hanya enak ditonton. Untuk
direnungkan pun, permainan itu ternyata asyik, tetapi sekaligus lucu. Ikhwalnya, karena permaianan sepak bola mampu
menyedot perhatian milyaran orang di dunia, baik yang sehat maupun yang sedang
sakit. Oleh karena itu, permainan sepak bola mampu menghabiskan atau menyedot
uang dan materi bermilyar-milyar atau mungkin triliunan rupiah.
Kalau dipikir-pikir, permainan sepak bola dari zaman ke zaman tidak pernah
berubah. Permainan bola kaki di seluruh dunia berarti adalah mengejar-ngejar
sebuah benda bundar yang disebut ”bola”. Setelah bola itu didapat di kaki lalu langsung
ditendang, dan bersamaan dengan itu segera diuber lagi lalu ditendang lagi, dan
seterusnya... Kalau seorang atau beberapa pemain bola jatuh atau bertubrukan, mereka
berusaha segera bangkit lalu berlari lagi memburu bola itu, seakan
bola itu tidak boleh menjauh. Tetapi, setelah bola itu didapat pasti segera
dihalau, ditendang, atau dibuang dengan kaki dan sering juga dengan tangan. Paling
tidak selama 2 x 45 menit benda bundar itu terus dikejar-kejar, ditendang,
diuber lagi, lalu dibuang lagi, dan cepat-cepat diburu lagi, dan seterusnya. Seluruh
dunia sepakat bahwa tujuannya hanya satu, yakni memasukkan bola itu ke gawang.
Benarkah masuk ke dalam gawang?
Hingga putaran final piala dunia sepak bola 2006 pun, tujuan menguber-uber
bola itu pasti untuk memasukkannya ke gawang. Padahal, begitu bola itu
dimasukkan ke gawang justru bola itu langsung keluar dari gawang. Jadi, begitu
masuk, langsung keluar. Oleh karena itu, mungkin tidak benar hendak memasukkan
bola ke gawang melainkan hanya untuk mengeluarkan bola dari lapangan permainan dengan
syarat harus melalui gawang.
Begitulah nasib bola kaki dari zaman ke zaman. Anehnya, milyaran maniak bola di
dunia rela meninggalkan apa saja dalam hidupnya untuk dapat menyaksikan
permainan bola itu, baik secara langsung di stadion sepak bola maupun melalui
televisi. Yang hanya dapat mendengarnya melalui radio pun, tak urung
berjingkrak-jingkrak jika kesebelasan idolanya berhasil mengeluarkan bola
melalui gawang lawannya.
Kalau seseorang senang mengejar-ngejar ayam di lapangan bola, mungkin orang
yang melihat akan menuding orang itu sudah kurang waras atau gila. Akan tetapi,
ketika 20 orang waras di lapangan ditambah dua kiper, satu wasit, dan dua
hakim garis mengejar-ngejar bola, siapa yang berani mengatakan kalau mereka
sudah gila? Perlukah dilihat permainan bola seperti itu dari kaca mata orang
gila? Kira-kira apa gerangan pendapat seorang gila tentang 20 + lima orang yang
100 % waras mengejar-ngejar bola di lapangan? Kemudian, apa komentar orang gila melihat ribuan penonton sepak bola yang terbius dan histeria
menyaksikan sebuah benda bundar yang diuber-uber oleh 20 + lima orang waras di
lapangan sepak bola?
Dari sudut pandang yang normal (artinya masih waras) jelas terlihat bahwa para
penggemar bola rela menghabiskan uang hasil jerih payahnya untuk sebuah benda
bundar yang disebut ”bola”. Banyak pecandu bola yang memboroskan uangnya
membeli berbagai peralatan elektronik tambahan supaya dapat menangkap siaran
sepak bola dunia. Banyak pula yang membuang waktu dan menghabiskan uang serta
energinya untuk menyaksikan langsung pertandingan sepak bola di stadion. Mereka
meninggalkan rumahnya, keluarganya, pekerjaannya, ibadahnya dan sebagainya,
hanya untuk menonton pertandingan bola. Namun, sudah banyak juga yang kembali
dari stadion sepak bola dalam bentuk mayat karena mati berdesak-desakan di
pintu masuk stadion pertandingan, atau tewas di jalan raya ketika pergi atau
hendak pulang menonton sepak bola... Banyak pula yang luka-luka ringan bahkan
luka parah akibat bersipukulan antarsupporter, atau pulang dengan
”kemiskinannya” karena kalah dalam judi bola...
Untuk menutupi kegandrungan yang tak terkendali terhadap bola, ada maniak
bola yang melihatnya sebagai seni, seni saat menendang bola. Padahal seni itu
lembut, halus dan indah, sehingga sulit mendeteksi seni yang ditimbulkan oleh tendangan
dari berpasang-pasang kaki yang kekar dan kasar. Ada pula yang beralaskan
sportivitas. Padahal, ada banyak otak dan akal sehat manusia yang turut
menggelinding seperti bola. Para pemain baku pukul di lapangan gara-gara benda
bundar itu, pemain mengeroyok wasit, supporter baku serang seperti latihan
perang, bahkan merusak atau menghancurkan banyak benda di sekitarnya yang sama
sekali tidak berurusan dengan bola. Minuman keras, senjata tajam, senjata api,
bahkan judi ikut masuk ke tribun sepak bola. Kursi-kursi bagus dan mahal hancur
atau hangus. Kematian, kecelakaan, kehabisan anggaran, perseteruan
berbuntut-buntut, dan sebagainya, sudah pun bertumpuk-tumpuk yang diakibatkan
oleh sepak bola.
Fenomena dan fakta-fakta seperti di atas sudah berlangsung dari tahun ke
tahun. Artinya, mungkin sudah ribuan tahun manusia tidak pernah insyaf bahwa bola
sering menyebabkan kematian, kecelakaan, perjudian, kerugian, ”perang-perangan”
(tawuran), huru-hara, dan sebagainya. Akan
tetapi, setiap tahun jumlah maniak bola semakin bertambah saja seiring dengan
pertambahan jumlah penduduk dunia. Even-even penyelenggaraan pertandingan sepak
bola pun setiap tahun semakin meningkat pula seiring dengan meningkatnya
kebutuhan hidup setiap orang. Oleh karena itu, sepak bola tidak mungkin lenyap
dari muka bumi, apalagi bola sudah merupakan komoditas niaga atau bisnis, lahan
cari makan, komoditas politik, alat kampanye, arena judi, dan sebagainya. Rasanya,
tidak mustahil ada banyak hal yang terselubung dalam bola susul menyusul dengan
sejarah sepak bola. Korupsi pun sangat mungkin melengkapi alur sejarah sepak
bola. Oleh karena itu, para pecandu sepak bola seharusnya dapat
mempertanggungjawabkan di mana sportivitas sepak bola!
(Penulis bukan
pemerhati bola...)
Komentar
Posting Komentar