”Salam Sejahtera!”
Menebar Salam Menuai Diam


Uluk salam "Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh!" sudah sangat akrab di telinga orang Indonesia. Umat non-Muslim Indonesia tidak sedikit yang fasih mengucapkan salam berbahasa Arab itu. Begitu juga salam sahutannya: "Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh!"
            Salam itu memang berkesan sangat religius islami. Saking religiusnya, apabila diucapkan oleh pembina upacara dalam barisan upacara sipil dengan posisi istirahat di tempat, sejenak peserta akan merapatkan kedua kakinya ke posisi “Siap!” ketika menyahut: "Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh!"
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Keempat (2015:95), kata “assalamualaikum” artinya keselamatan (kesejahteraan, kedamaian) untukmu […]. Sedangkan frasa “alaikum salam” (hlm. 34) artinya semoga kedamaian menyertai Anda semua (sekalian). Di Indonesia salam itu sudah “membumi”. Akan tetapi, warna-warni indah Bhinneka Tunggal Ika kita belum dapat menyebabkan salam itu diserukan dalam setiap pertemuan, karena sebagian orang Indonesia memaknainya lebih khusus.
Akhir-akhir ini semakin sering  pula terdengar sapaan: "Salam sejahtera bagi kita semua!". Kurang jelas sejak kapan salam itu mulai membudaya ditebarkan; mungkin sejak B.J. Habibie memerintah Indonesia, dan lebih sering diucapkan ketika K.H. Abdurrahman Wahid atau Gusdur menjadi Presiden Republik Indonesia. Salam itu lebih sering ditebar dalam pertemuan-pertemuan resmi kalangan pemerintahan jikalau pesertanya majemuk. “Salam sejahtera!” disampaikan sebagai salam tambahan setelah salam "Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh!". Makna kata salam” dan sejahtera” tentulah universal karena tidak menunjukkan perbedaan dalam kemajemukan dan tidak bercirikan suatu identitas. Dalam KBBI edisi Keempat tahun 2015, frasa ”salam sejahtera” belum tercantum sebagai entri. Ini harus menjadi perhatian Tim Penyusun KBBI edisi berikutnya. Dalam KBBI (2015:1208) kata “salam” berarti damai; pernyataan hormat; tabik; ucapan, sedangkan kata “sejahtera” diartikan sebagai aman sentosa dan makmur, selamat (terlepas dari segala macam gangguan). (hlm. 1241).
Kita tahu, sapaan "Salam sejahtera!" lebih ditujukan kepada audien beragama Nasrani yang ada dalam suatu kumpulan audien yang heterogen. Dalam kumpulan audien yang homogen Kristen, sapaan yang acap diucapkan adalah “Syaloom”, kadang-kadang ditulis “Shalom”. “Salam sejahtera!” diucapkan untuk menyapa lubuk religiositas non-Muslim, khususnya Nasrani. Sapaan “Salam sejahtera!” itu terasa menyejukkan bagi kaum Nasrani apabila disampaikan dalam suatu pertemuan yang pesertanya majemuk. Penyampaian salam ini pun tidak diatur oleh apa pun yang sifatnya kaidah atau aqidah. Akan tetapi, setiap kali sapaan itu ditebar kepada audien, selalu tanpa sahutan. Berbeda kalau salam "Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh!" ditebar, semua audien akan menyahut serentak: "Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh!". Sikap diam audien mungkin disebabkan kekhawatiran yang berlebihan, khawatir ketahuan sebagai seorang Nasrani? Apa pun alasannya, tidaklah berdasar. Akibatnya, si penebar "Salam sejahtera!"  hanya menuai diam.
Sebagai bagian dari etiket berkomunikasi, tidaklah etis jikalau sebuah sapaan didiamkan dan berlalu tanpa sahutan. Setiap sapaan sepatutnyalah disahut dengan kata atau ucapan yang paling tepat. Untuk “kasus” Salam Sejahtera baik sekali jika disahut dengan mengulang kembali kata sapaan yang dilontarkan si penyapa. Dalam hal ini, apabila mendapat sapaan: "Salam sejahtera!", setidaknya dapat disahut dengan: "Salam sejahtera!" pula. Filosofinya, setiap kali kita mendapat tebaran salam kesejahteraan, selayaknyalah disambut dengan suka cita. Persoalannya, apa sahutan yang tepat untuk "Salam sejahtera bagi kita semua!" itu?
Beberapa kata atau frasa dapat diperiksa untuk dijadikan sebagai sahutan atas sapaan "Salam sejahtera!". Dalam Injil Jesus (kitab Matius, Markus, Lukas, dan Johanes), dapat ditemukan salam yang selalu diucapkan oleh Jesus setiap bertemu dan sebelum berpisah dengan para muridNya. Salam itu adalah "Damai sejahtera!" (bukan "Salam sejahtera!"). Memang, dalam Injil tidak ditemukan ucapan para murid untuk menyahut sapaan salam dari Jesus yang juga mereka panggil “Guru” itu. Tetapi, salam "Damai sejahtera!" itu kemudian menjadi salam yang selalu diucapkan oleh para rasul (murid) Jesus ketika menyapa para umat pada saat memulai kotbah dan sesaat sebelum mengakhirinya.
Pemimpin kegiatan kerohanian Kristen sering pula menyapa kumpulan umatnya dengan: "Syalom!" atau “Shalom!”, dan umat biasanya menyahut dengan "Syalom!" pula. Apakah kata itu sesuai sebagai sahutan untuk sapaan "Salam sejahtera!"? Kata ”syaloom” tidak ditemukan dalam Injil Jesus, apalagi dalam KBBI. Mungkin kata itu berasal dari bahasa Ibrani atau Yahudi? Namun, mendengar konteks pemakaian kata itu, maknanya terasa sejajar dengan "salam sejahtera". Meskipun demikian, etimologi (asal-usul) dan semantik (arti) kata “syalom” itu masih perlu diperiksa lebih jauh. Perlu juga memerhatikan makna universal kata ”syalom”, bahkan mempertimbangkan aspek-aspek sosiologisnya. 
Apakah kata “syalom” sama maknanya dengan kata “amin”? Kata “amin” sudah sangat universal dalam konteks religiositas kita. Kata “amin” berasal dari kata Ibrani yang artinya "pasti", "sungguh", atau "benar". Dalam KBBI (2015:52), kata “amin” diartikan sebagai ”terimalah”, ”kabulkanlah”, ”demikianlah hendaknya” […].
Dalam konteks iman Kristiani, segala harapan kepada Tuhan selalu diyakini dengan sikap pasti, karena landasannya adalah sikap iman atas “Jadilah kehendakMu”. Iman Kristen meyakini bahwa hanya kehendak Tuhanlah yang jadi, bukan kehendak manusia atau dunia. Oleh karena itu, sapaan "Salam sejahtera!" hendaknya disahut dengan salam yang imaniah pula, yang mengandung makna kepastian atas kehendak Ilahi. “Salam Sejahtera!” cocok jika disahut dengan “Amin!” atau “Amen!”, mengacu pada makna kata “amin” menurut KBBI seperti disebut di atas, yakni “demikianlah hendaknya”.
Berdasarkan pengertian yang tercantum dalam KBBI (2015:1208, 1241), “salam sejahtera” merupakan pernyataan tanda hormat dengan menebarkan damai untuk menciptakan aman sentosa. Damai dan aman sentosa merupakan ajaran pokok agama-agama Samawi. Oleh karena itu, frasa “damai dan aman sentosa” mengandung muatan religiositas juga.
Karena sapaan “Salam sejahtera!” bersumber dari konteks iman Kristiani maka sahutan “Puji Tuhan!” merupakan alternatif lain untuk sapaan itu. Frasa “puji Tuhan” juga belum tercantum dalam KBBI tahun 2015, kecuali kata “puji” diartikan sebagai (pernyataan) rasa pengakuan dan penghargaan yang tulus akan kebaikan (keunggulan) sesuatu (hlm. 1112); dan “Tuhan” yang diberi arti sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dsb; sesuatu yang dianggap sebagai Tuhan (hlm. 1493).
Frasa “Puji Tuhan” dapat disamakan dengan “alhamdulillah” yang menurut KBBI (2015:39) sebagai ungkapan untuk menyatakan rasa syukur karena menerima karunia Allah Swt. (maknanya ‘segala puji bagi Allah’; pengungkapan pujian kepada Allah Swt. yang dibaca sebagai rangkaian zikir (Subhanallah, --, Allahuakbar, dst) setelah salat.
Meskipun demikian, sebelum menyepakati sahutan yang pas untuk sapaan “Salam sejahtera!”, baiklah dipertimbangkan kembali pengucapan “Salam sejahtera!” atau “Damai sejahtera!”. Seperti disebutkan di atas, sapaan “Salam sejahtera!” disampaikan untuk menyapa atau mengakomodir lubuk terdalam religiositas seorang atau sekumpulan orang Nasrani. Oleh karena itu, pilihan sapaan yang dilontarkan tentulah yang bersumber dari religiositas Nasrani. Seperti disebutkan di atas, sapaan “Salam sejahtera!” tidak ditemukan dalam Injil Jesus, melainkan “Damai sejahtera!”. Jadi, tidakkah lebih tepat menyapa dengan ucapan  "Damai sejahtera!" daripada “Salam sejahtera!”?
Tulisan ini hanya untuk membuka wacana agar para pakar bahasa dan teolog Kristen Indonesia dapat menetapkan sahutan yang tepat untuk sapaan "Salam sejahtera!" atau "Damai sejahtera". Selanjutnya, tim penyusun KBBI sudah seharusnya memasukkan frasa "Damai sejahtera!" atau "Salam sejahtera!" sebagai entri dalam KBBI edisi berikutnya. Hasil yang diharapkan dari setiap sapaan "Salam sejahtera!" atau "Damai sejahtera!" adalah agar si penebar salam tidak lagi menuai diam, melainkan mendapat sahutan yang mempersatukan perbedaan dan menunjukkan keakraban serta persaudaraan antariman semua orang Indonesia.
Mungkin yang tidak perlu digubris adalah apabila si penyapa berseru: "Salam sejahtera bagi yang beragama lain!", seperti kebiasaan para pengamen di bus-bus kota Jakarta. Karena kita tahu di Indonesia tidak ada agama Lain. Yang ada adalah agama Islam, Kristen (Protestan dan Katolik), Buddha, Hindu, Kong Hu Chu atau Aliran Kepercayaan yang sah menurut undang-undang.
Jadi, tergantung pada kita: mau menebar salam dengan memetik sejahtera atau menebar salam tetapi menuai diam.

Salam damai sejahtera!


Jonner Sianipar

Komentar

Postingan populer dari blog ini